Bayi Vegetarian

sehat sejak dini
Subscribe

Archive for February, 2010

Pola Makan Vegetarian untuk Anak-anak: Sehat dari Awal

February 23, 2010 By: Pradnyamita Category: Serba Serbi Bayi & Anak

Kebiasaan makan tertanam sejak kita masih kecil. Memilih untuk menjadi vegetarian dapat memberikan anak kita dan seluruh keluarga kita kesempatan untuk menikmati berbagai macam nutrisi makanan yang baik.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola makanan buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan akan tumbuh dengan berat badan yang ideal dan sehat, bahkan hidup lebih lama dibandingkan teman-temannya yang mengonsumi daging. Mengambil nutrisi makanan dari tumbuh-tumbuhan lebih sehat bila dibandingkan dengan makanan hewani yang memiliki lemak jenuh, kolesterol, dan beberapa nutrisi yang tidak bisa didapat dari makanan nabati. Beberapa nutrisi yang diperlukan oleh tubuh banyak dimiliki oleh tumbuhan yang dapat memberikan energi, protein, dan beberapa nutrisi lainnya yang berguna bagi tubuh seperti serat, antioksidan, vitamin, mineral, dan phytochemical.

Nutrisi yang Sempurna untuk Anak-anak

Pola makan vegetarian memberikan nutrisi yang sempurna bagi semua kalangan, dari yang baru lahir sampai yang sudah dewasa. Tentu, nutrisi terbaik yang diperlukan untuk bayi berasal dari susu ibu. Itu merupakan cara yang alami dimana ibu menyusui bayi untuk memberikan kekebalan bagi tubuh mereka.

Para dokter menyarankan untuk mengenalkan makanan padat ketika mereka telah berusia setengah tahun. Makanan yang pantas untuk diberikan adalah makanan yang lembut seperti bubur, sereal, buah yang sudah dihaluskan, dan sayur yang sudah dimasak. Dengan kesempatan mencoba memberi makanan vegetarian bagi mereka, para anak remaja dan anak-anak biasanya akan menikmati berbagai macam buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan—dan terlebih lagi jika mereka sedang masa pertumbuhan. Pada usia sekolah, anak-anak biasanya berantusias untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan makanan, bagaimana cara memasaknya, mendatangi para petani, dan berkebun. Para remaja yang tumbuh dengan vegetarian lebih mudah mengatur kesehatannya dengan berat badan yang seimbang serta mengurangi masalah seperti jerawat, alergi, dan masalah gastrointestinal dibandingkan dengan teman sebayanya.

Beberapa studi mengatakan bahwa pertumbuhan anak vegetarian lebih lambat dibandingkan dengan non vegetarian—dengan kata lain, anak vegetarian tumbuh lebih lambat sedikit pada awalnya, tetapi mereka akan tumbuh juga nantinya. Akhirnya tinggi dan berat bagi anak vegetarian seimbang dengan anak yang mengonsumsi daging. Yang menarik, memberi bayi dengan susu ibu dapat memperlambat pertumbuhannya dibandingkan dengan susu botol. Sesuatu yang kurang cepat berkembang pada tahun-tahun-tahun awal diperkirakan akan menurunkan risiko penyakit di kelangsungan hidup nantinya.

Ternyata, pola makan hewani yang mengandung protein tinggi seperti daging, telur, dan produk susu dapat mengurangi waktu pubersitas, seperti yang telah tertera pada 2000 studi di Sekolah Harvard dari Kesehatan Publik yang hasilnya mengatakan bahwa anak perempuan yang mengonsumsi protein tinggi mengalami masa pubernya lebih cepat antara 3 hingga 8 tahun bila dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi protein dari sayuran.

Hasil studi di Boston pada tahun 1980 melakukan penelitian terhadap IQ dari anak vegetarian. Beberapa anak mengikuti pola makan makrobiotik, beberapa dari mereka adalah anggota dari Advent (pengikutnya biasa mengonsumsi pola makan nabati), dan sisanya adalah keluarga yang sering melakukan pola makan vegetarian. Di dalam tes kepintaran, hasil tes mereka biasanya di atas rata-rata, di atas sekitar 116. Sekarang, pola makan vegetarian berhubungan dengan kepintaran. Biasa, keluarga vegetarian lebih terpelajar dibandingkan rata-rata keluarga pemakan daging. Tetapi pendidikan orang tua walau bagaimanapun mempunyai efek yang lebih besar daripada pola makan. Jadi, penelitian ini seharusnya dapat menenangkan hati orang tua vegetarian yang ingin tahu apakah produk hewani dibutuhkan oleh perkembangan otak. Jawabannya sudah jelas: Tidak.

Mungkin hal terpenting yang berhubungan dengan makanan anak-anak adalah: hidup panjang karena pola makan sejak usia muda. Anak-anak yang biasa mengonsumsi nugget ayam, daging babi, dan kentang goreng hari ini biasanya menjadi penderita kanker, hati, dan diabetes di hari yang akan datang. Anak-anak yang tumbuh dengan pola makan biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buhan, dan polong-polongan mempunyai risiko yang kecil terhadap penyakit hati, stroke, diabetes, kanker, dan kegemukan yang telah menjadi hal umum di Amerika. Maka dari itu, mereka juga ingin hidup lebih lama.

Kebutuhan Nutrisi

Karbohidrat kompleks banyak ditemukan di padi-padian, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran yang memberikan energi yang cukup bagi anak-anak aktif. Tambahkan dengan beras merah, roti, pasta gandum, gandum giling, dan jagung, termasuk butir padi yang kurang terkenal seperti barley, quinoa, millet dan lain-lain dapat menambah serat dan nutrisi pada pola makan anak-anak. Selain itu, menjauhi anak-anak dari permen, minuman manis, produk siap saji, dan sereal yang sangat manis dapat membantu mereka mencegah nafsu makan yang terlalu tinggi yang dapat meningkatkan berat badan yang tidak diinginkan.

Umumnya, anak-anak membutuhkan protein untuk pertumbuhannya, tetapi sebenarnya mereka tidak membutuhkan protein tinggi yang berasal dari produk hewani. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa variasi menu padi-padian, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan juga dapat memberikan protein yang tinggi. “Kekurangan Protein” biasa dikhawatirkan oleh orang tua di negara-negara miskin dan kesediaan pangannya sedikit. Kekurangan protein benar-benar tidak terjadi pada pola makan nabati.

Anak-anak yang masih kecil membutuhkan sedikit lebih banyak asupan lemak daripada orang dewasa. Sumber lemak yang sehat di antaranya berasal dari produk kedelai, buah alpukat, dan mentaga kacang. “Hot dog” kedelai, mentega kacang, sandwich jeli, burger vegie berbumbu, dan potongan alpukat di dalam salad, sebagai contoh, sangatlah umum. Namun kebutuhan lemak dalam pola makan seharusnya tidak diperlukan terlalu banyak. Anak-anak Amerika banyak yang memiliki lapisan berlemak di arteri mereka — awal dari penyakit jantung — sebelum mereka tamat SMA. Sebaliknya, anak-anak Jepang tumbuh dengan pola makan tradisional yang rendah lemak selanjutnya lebih sedikit bermasalah dengan diabetes, sakit jantung, obesitas, dan penyakit kronis lainnya.

Para orang tua ingin memastikan bahwa pola makan anak-anak mereka mengandung sumber vitamin B12 yang dibutuhkan untuk kesehatan darah dan fungsi syaraf. Kekurangan jarang terjadi, namun bila terjadi, sulit untuk dideteksi. Vitamin B12 sangat berlimpah di dalam berbagai sereal komersial, susu kedelai, beras yang diperkaya, dan ragi yang bergizi. Periksa label dengan kata cyanocobalamin atau B12. Anak-anak yang tidak makan produk-produk ini harus mengonsumsi suplemen B12 sebanyak 3 mg atau lebih per hari. Vitamin anak-anak umumnya mengandung B12 lebih dari cukup. Spirulina dan rumput laut bukanlah sumber vitamin B12 yang dapat diandalkan.

Tubuh juga membutuhkan vitamin D, dimana orangtua dan anak-anak senang mengetahui bahwa itu bisa didapat dengan bermain di  luar di bawah sinar matahari. Limabelas atau duapuluh menit sinar matahari setiap hari di tangan dan wajah sudah cukup bagi sel kulit tubuh untuk memproduksi vitamin D. Anak-anak di garis lintang dengan sinar matahari sedikit membutuhkan vitamin D dari suplemen multivitamin atau cairan selain susu yang diperkaya.

Untuk kalsium, kacang-kacangan, ara kering, ubi, sayuran hijau, termasuk bayam, kale, brokoli, sawi hijau, dan bit adalah sumber kalsium yang luar biasa. Susu kedelai, susu beras yang diperkaya, dan jus yang diperkaya dengan kalsium memberikan kalsium yang sangat banyak. Sebagai tambahan, memakan banyak buah dan sayuran, tanpa protein hewani, dan membatasi asupan garam membantu tubuh untuk memelihara kalsium.

Anak-anak yang sedang tumbuh juga membutuhkan zat besi yang terkadung dalam berbagai jenis kacang-kacangan dan sayuran berdaun hijau. Vitamin C dalam sayuran dan buah membantu penyerapan zat besi, terutama bila dimakan bersama dengan makanan yang kaya zat besi. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa susu sapi mengandung zat besi yang sangat sedikit dan dapat menyebabkan kehilangan darah ringan, kronis pada pencernaan yang dapat mengurangi zat besi dan menaikkan risiko anemia.

Bayi

Sekali lagi, makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir adalah ASI. Bila menyusui tidak dimungkinkan, susu kedelai formula cukup bernutrisi. Bayi tidak memerlukan susu sapi formula untuk tumbuh. Sebagai tambahan, selain mengandung protein yang mempengaruhi usus yang mengganggu pada banyak anak-anak, susu sapi adalah penyebab umum alergi. Sayangnya, respon kebal terhadap protein susu berpengaruh pada diabetes yang tergantung pada insulin dan bahkan pada Sindrom Kematian Bayi Mendadak. Susu kedelai formula sering digunakan di semua rumah sakit anak-anak, walaupun juga bisa menyebabkan alergi. Susu kedelai yang dijual di toko untuk orang dewasa tidak sama dengan susu kedelai formula bayi, dan tidak memadai untuk bayi.

Bayi tidak membutuhkan makanan lain selain ASI atau susu formula pada setengah tahun pertama, dan mereka seharusnya terus menerima ASI atau formula paling sedikit sepanjang 12 bulan pertama. Bayi yang disusui juga membutuhkan sinar matahari sekitar dua jam dalam seminggu untuk memperoleh vitamin D — motivator yang baik bagi ibu-ibu untuk kembali berjalan dengan rutin. Beberapa bayi, terutama yang berkulit gelap atau tinggal di iklim berawan, tidak dapat membuat vitamin D dalam jumlah yang cukup, dalam kasus mereka, dibutuhkan suplemen vitamin D.

Saat berusia 5 sampai 6 bulan, atau berat bayi menjadi berlipat, makanan lain bisa ditambahkan pada pola makannya. Dokter anak sering menyarankan untuk mulai dengan sereal yang diperkaya zat besi karena pada usia 4 sampai 6 bulan, persediaan zat besi bayi yang tinggi secara alami sejak lahir, mulai menurun. Tambahkan satu makanan sederhana baru setiap kali, dengan jarak satu sampai dua minggu. (referensi)

Tags:

Kue Labu Goreng Spesial

February 19, 2010 By: Pradnyamita Category: Dapur Vegetarian

kue labu:
500 g labu parang dikukus dan dihaluskan
225 g tepung beras
2 sdm tepung sagu
1 sdm margarine dilelehkan
1 sdt garam, 1 sdt gula pasir, 1 sdt kecap asin
220 g air
1. Campur tepung beras, tepung sagu, air, margarine cair, garam, gula dan kecap asin. Aduk rata sampai tak bergumpal.
2. Masukkan labu yang sudah dihaluskan ke adonan tepung dan aduk rata.
3. Tuang ke cetakan dan kukus selam 45 menit.
4. Keluarkan labu dari cetakan.
5. Biarkan dingin, potong sesuai selera. Goreng dengan Teflon yang diberi sedikit minyak.

Tuimisan:
1 sdm lobak manis cincang
1 sdm lobak asin cincang
5 potong daging nabati dicincang
1 buah tahu putih, dipotong kotak, 1cm dan digoreng
2 buah jamur hioko direndam lunak, potong kecil
3 buah cabe rawit diiris kecil
1 buah bawang bombany dipotong kecil
1 sdm bawang merah goreng diremas
1 sdt the wijen putih disangrai wangi
1 sdm saus tiram nabati, 1 sdt gula
½ sdt kecap asin
Toge

Cara Membuat:
6. Panaskan minyak, tumis lobak manis, lobak asin, bawang Bombay, cabe rawit sampai harum.
7. Masukkan hioko, daging nabati, tahu, saus tiram nabati, gula pasir, kecap asin, dan toge. Masak 1 menit..
8. Masukkan labu yang sudah di goreng. Aduk rata, pindahkan ke wadah saji, taburi dengan bawang goreng dan wijen…. Siap dihidangkan.

~ Selamat Mencoba~

Uji resep Ibu Marya Limyadi (referensi))

Anak-anak Boleh Vegetarian

February 17, 2010 By: Pradnyamita Category: Serba Serbi Bayi & Anak

Sejak usia 0, bayi sebenarnya sudah menjadi vegetarian. Pasalnya, selama enam bulan pertama mereka hanya mengonsumsi air susu ibu (ASI). Apakah diet vegetarian itu masih bisa dilanjutkan hingga masa kanak-kanak?

Manusia sebenarnya bukan tergolong jenis pemakan segala. Menurut Bambang Sumantri, Ketua Umum Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI), dengan susunan gigi yang ada, sesungguhnya manusia masuk golongan herbivora. Tidak seperti gigi harimau yang runcing, sehingga mampu menyayat daging.

Bukan hanya itu, tambah Bambang yang sudah menjadi vegetarian sejak usia 17 tahun ini, usus manusia yang cukup panjang membuat makanan hewani bertahan lebih lama di dalamnya.

“Butuh waktu 4-5 hari agar daging bisa bersih dari usus,” tuturnya. Dengan begitu, diet vegetarian cocok diterapkan, termasuk untuk anak-anak.

Lakto-Ovo
Dikatakan Dr. Hendry Widjaja, MHA, dokter dari RS Medika Gria, Jakarta, sedari dini bayi sudah bisa menjalani diet vegetarian. Menurut dokter yang juga seorang vegetarian ini, sejak usia 0 bulan, bayi sesungguhnya tidak memerlukan sumber makanan hewani.

Hingga usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi sudah tercukupi oleh ASI. Begitu mereka dikenalkan pada makanan padat (mulai usia 6 bulan), diet vegetarian bisa diterapkan melalui kombinasi yang tepat.

“Tentunya diet lakto-ovo vegetarian, karena mereka masih dalam proses pertumbuhan. Setelah remaja, baru mereka bisa menerapkan diri untuk menjadi vegan atau vegetarian murni,” ujar Kepala Bagian Pendidikan dan Latihan KVMI ini.

Lakto-ovo vegetarian termasuk diet yang cukup longgar ketimbang vegan atau vegetarian murni. Pada lakto-ovo vegetarian, anak masih bisa mengonsumsi telur, susu, serta produk olahannya, kecuali daging dan ikan.

Diet vegetarian memang bisa dijalani oleh segala usia. American Dietetic Association (ADA) menyetujui hal tersebut. Dalam makalah berjudul Feeding your Baby the Vegetarian Way, seperti dikutip New Beginnings, 2000, ADA menyatakan bila direncanakan dengan tepat, bayi yang berdiet vegetarian bisa mendapat seluruh nutrisi yang diperlukan untuk proses tumbuh kembangnya.

Ditambahkan Dr. Hendry, sejauh ini tidak ada perbedaan mencolok antara anak yang melakukan diet vegetarian dengan anak nonvegetarian, baik dari sisi pertumbuhan maupun inteligensinya. Jurnal Kedokteran Pediatrics juga menyebutkan hal serupa.

Tumbuh Baik
Penelitian tentang vegetarian pada anak pernah dilakukan tahun 1989. Para periset menemukan, dari 404 anak yang diteliti di sebuah komunitas di wilayah Tennessee, AS, tidak ada perbedaan signifikan dalam pertumbuhan anak vegetarian dan nonvegetarian.

Memang, di usia 1-3 tahun, anak yang menjalani diet vegetarian di daerah tersebut sedikit lebih kecil ketimbang anak Amerika pada umumnya. Namun, begitu menginjak usia 10 tahun, pertumbuhan mereka kembali setara.

Bila dirata-rata, pertumbuhan anak vegetarian sama dengan anak lainnya. Hal ini mematahkan anggapan bahwa anak vegetarian bertubuh lebih kecil, kurus, dan pucat.
Meski demikian, para ahli mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya defisiensi vitamin dan mineral pada anak vegetarian, terutama vitamin B12, yang banyak terdapat pada makanan sumber hewani.

Misalnya, anak yang sulit makan sayur, bisa mengalami defisiensi zat besi. Sayur umumnya mengandung zat besi yang penting bagi pembentukan sel darah merah. Namun, bila orangtua bisa mengombinasikan makanan dengan baik, tidak akan terjadi kekurangan gizi.

Sebagai patokan, dijelaskan Dr. Hendry yang kedua anaknya menjalani diet vegetarian, ada empat komposisi makanan yang sebaiknya diberikan pada anak vegetarian. “Kelompok padi-padian, sayur, buah, dan kacang-kacangan. Dengan kombinasi yang tepat, gizi anak bisa terpenuhi dengan baik,” katanya.

Dikatakan Virginia Messina, MPH, RD, dan Mark Messina, Ph.D, penulis buku The Vegetarian Way, orangtua harus memiliki pengetahuan dasar tentang nutrisi vegetarian agar anak mendapat nutrisi yang tepat dan seimbang. Menurut mereka, kebutuhan zat gizi anak yang cukup tinggi adalah vitamin D, zat besi, kalsium, dan zinc. Nutrisi lain yang juga diperlukan anak vegetarian adalah protein, vitamin B12, dan riboflavin.

Kalsium bisa diperoleh dari susu dan produk olahannya. Kemungkinan anak-anak yang menerapkan diet lakto-ovo vegetarian kekurangan kalsium, zat besi, maupun vitamin B12 sangat kecil. Sebab, sumber kalsium bisa didapat dari sumber makanan seperti tahu, sayur berdaun hijau tua, bok choy, brokoli, kacang-kacangan, kedelai, dan sereal.

Zat besi juga didapat dari makanan sumber nabati. Jenis zat besi pada sumber nabati tergolong nonhem dan kurang mudah diserap tubuh. Berbeda dengan zat besi dari sumber hewani, seperti daging merah, yang tergolong hem dan mudah diserap tubuh.
Untuk menyiasati proses penyerapan itu, para ahli menganjurkan agar makanan kaya zat besi dari sumber nabati dikonsumsi bersama dengan makanan tinggi vitamin C.

Konsultasi Dokter
Diet vegetarian pada anak tidak terlalu dianjurkan oleh Dr. Dida Gurnida, Sp.A(K), MKes., konsultan nutrisi dan metabolik dari RS Hasan Sadikin Bandung. “Sebaiknya jangan menerapkan diet vegetarian pada anak-anak. Sebab, mereka masih membutuhkan protein hewani,” ujarnya.

Menurut dokter anak lulusan FK Universitas Padjadjaran ini, tidak adanya sumber hewani kurang baik untuk pencernaan. Usus bakal tidak mengenal makanan sumber hewani. Proses pertumbuhan anak juga menjadi kurang baik. Perlu diketahui bahwa makanan sumber hewani membantu proses pembakaran menjadi energi dengan lebih baik.

Dr. Dida lebih menyarankan penerapan pola umum gizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Lemak dan protein berasal dari sumber nabati dan hewani.

Menanggapi sistem pencernaan manusia yang tidak sesuai untuk makanan hewani, ia hanya menjawab, ”Makanan sumber hewani jangan terlalu banyak dikonsumsi.”
Upaya menerapkan diet vegetarian pada anak sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter ahli terlebih dahulu. Tujuannya, agar proses pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terganggu.(referensi)

Chocolate Chip and Banana Muffin

February 13, 2010 By: Pradnyamita Category: Dapur Vegetarian

Bahan :
2 cangkir tepung terigu
1 sdt baking powder
Sedikit garam
¾ cup coklat chip (dark chocolate)
¾ cup gula
6 sdm susu kedelai cair.
10 sdm mentega dicairkan
3 bh pisang matang, dihaluskan
1 cup biji almond

Cara membuat:

1. Panaskan oven 400 F(+/-205 c) selama 15 menit
2. Campur susu kedelai, mentega di mangkok sedang
3. Saring jadi satu tepung, garam dan baking powder di mangkok yang lebih besar
4. Tambahakan gula, coklat chip, kacang almond ke dalam campuran tepng, dan aduk rata.
5. Aduk perlahan-lahan bahan basa ke dalam bahan kering
6. Terakhir masukkan pisang yang sudah dihaluskan
7. Tuangkan ke loyang cangkir muffin.
8. Panggang selama 20 menit.

Terimakasih kepada Ibu Marya yg sudah bersedia membagikan resepnya :)  
~ Selamata Mencoba ~ (^_^)

Donat Vegan Simple

February 12, 2010 By: Pradnyamita Category: Serba Serbi Bayi & Anak

Resep donut ini sangat sederhana dan mudah membuatnya…coba deh pasti digemari, hanya dengan sedikit dekorasi toppingnya sesuai selera…jadi menarik.

Bahan:
250 gr tepung terigu cakra
1 sdm susu bubuk kedelai
½ bungkus ragi dadak (instant yeast)
1 sdm gula pasir
1 sdm mentega
125 cc air es
Minyak goreng secukupnya
dark cooking chocolate (cokelat masak)
coklat beras vegan
kacang mede/tanah, disangrai, tumbuk kasar

Cara membuat:
1. campur tepung terigu, susu kedelai, ragi dadak, gula pasir, mentega, dan aduk rata. Tuangi air es sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai kalis, atau tidak lengket di tangan. Bulatkan, tutup dengan lap bersih dan diamkan kurang lebih 30 menit, samapi mengembang.
2. Bagi adonan masing-masing 50-60 gr, kemudian masing-masing bulatkan lagi dan bentuk seperti cincin. Letakkan di atas serbet kering yang sudah ditaburi tepung terigu. Diamkan lagi kurang lebih 10 menit.
3. Panaskan minyak goreng (cukup banyak), dan goreng donat sampai keduasisinya kuning kecokelatan. Gunakan sumpit untuk membalik donat dan meratakan minyanya. Setelah matang, angkat dan tiriskan.
4. Setelah dingin, olesi dengan cokelat yang sudah dicairkan dan taburi dengan kacang, dll.
5. Cara Melelehkan Coklat
Potong-potong cokelat menjadi beberapa bagian, dan lelehkan dalam wadah anti lengket di atas api kecil. Setelah cokelat mulai meleleh, segera matikan apinya. Aduk-aduk terus sampai semua cokelat meleleh. Gunakan untuk melapisi donat.

NB: Karena tidak memakai emulsifier dalam resep ini, maka donut ini akan lebih lezat kalau disantap selagi masih hangat.


Switch to our mobile site