Bayi Vegetarian

sehat sejak dini
Subscribe

PBB: Kurangi Makan Daging untuk Selamatkan Bumi

June 06, 2010 By: Pradnyamita Category: Global Warming

Vegetarian tak cuma baik bagi tubuh tapi juga lingkungan. Laporan utama PBB menyerukan penduduk dunia perlu mengubah kebiasaan makan daging dan beralih menjadi vegetarian untuk mengatasi masalah perubahan iklim.

Kelompok ilmuwan internasional mengatakan penyebab terbesar emisi gas rumah kaca adalah produksi makanan dan penggunaan bahan bakar fosil.

Ilmuwan mengatakan, penggunaan batubara dan minyak bumi secara bertahap dapat digantikan oleh sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari. Tapi penduduk dunia akan selalu membutuhkan makan. (more…)

Mencegah Kiamat yang Tidak Perlu

January 19, 2010 By: Pradnyamita Category: Global Warming

oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.

“Satu hal sekarang yang mengancam dunia kita bersama adalah pemanasan global. Zaman sekarang, kalau Yohanes Pembaptis harus berseru-seru, Ia pasti akan berseru mengenai kiamat kita bersama yang diakibatkan oleh keserakahan kita, yang membuat dunia makin panas. Kalau kita menantikan kedatangan Kristus, sebenarnya bukan kedatangan kiamat 2012 itu, tapi kedatangan Yesus yang ingin kita bertindak nyata untuk menghentikan pemanasan global itu. Untuk menghentikan dunia yang tidak damai ini. Untuk menghentikan diri kita yang sering tidak bisa menguasai nafsu kita. Salah satu yang membuat kita ngawur, manja, yaitu kita menikmati kenikmatan-kenikmatan duniawi. Itu yang membuat pemanasan global. Apa itu? Makan daging. Daging dan ideologi dagingisme itu sudah menguasai seluruh kehidupan. Dan itu membuat dunia makin panas.

Menurut para ilmuwan, pemanasan global, 60% lebih, diakibatkan oleh peternakan. Ternak. Dan lagi, kotorannya itu bikin panas. Gas metan. Ini luar biasa.. Ini pengetahuan yang membuka, menurut Santo Paulus, yang membuat kita punya pengertian, pengetahuan yang benar, sehingga kita bisa memilih mana yang paling baik. Saya sendiri terbuka ketika mengetahui kenyataan ini. Membuka mata, itu benar. Dan itu sungguh-sungguh membuat kita semua, yang sudah kena ideologi dagingisme itu, merasa bahwa makan itu harus enak. Dan itu membuat dunia makin panas. Gas metan yang dikeluarkan itu dari peternakan, paling banyak, lalu membuat rumah kaca, efek rumah kaca. Lalu es di kutub utara mencair. Sekarang baru 17 cm pertambahan air laut, tapi nanti kalau diteruskan sampai es di kutub utara hilang, itu bisa 7 meter lebih. Pertambahan 17 cm ini sudah membuat gempa bumi di mana-mana. Mengapa? Karena bumi di bawah sana itu kan geser-geser, yang terdiri dari lapisan-lapisan. Kalau ditambah volume airnya, volume massa airnya, pasti akan makin tertekan. Pasti akan ambles, ambles. Maka sering gempa bumi. Sangat masuk akal. Dan menurut perhitungan, memang, hitungan tahun-tahun ke depan ini, es di kutub utara makin habis, dan lalu mau jadi apa? Dan itu pasti akan menaikkan suhu bumi. Dan pasti laut juga akan bertambah. Itu korelasinya sangat nyata, sangat scientific. Sangat ilmiah. Dan justru itu karena perilaku kita.

Kalau Yohanes berseru-seru “Bertobatlah..” Dan ingin Yesus supaya… Yesus yang tinggal di dunia bersama dia, ingin supaya dunia ini lestari, maka tidak ada kata lain, selain kita menghentikan gaya hidup yang hedonis, yang penuh kenikmatan, salah satu yang terpenting adalah kebiasaan makan daging. Yang serba nikmat itu, beralih ke, menurut Kejadian 1, ayat 29, “Aku telah menciptakan tumbuhan berbiji, Aku telah menciptakan semua itu… buah-buahan yang berbiji, dan itulah yang akan menjadi makananmu.” Menjadi sehat, menjadi tidak panas, menjadi adem, bertobat, mulai dari cara makan kita. Bertobat, mulai dari menghayati Yesus yang mau tinggal bersama kita semua, yang mencintai segala makhluk. Ia nanti lahir di kandang hewan… Ia mencintai hewan-hewan itu Ia sungguh tidak ingin terjadi kekerasan di antara kita, mulai dari makanan kita.

Kalau saya, saya tidak makan daging. Saya vegetarian untuk alasan kesehatan saya sendiri, maupun untuk alasan global warming. Untuk bertobat supaya kita berpengetahuan yang benar”

Khotbah ini disampaikan oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. (Rohaniwan Gereja Katholik Keuskupan Agung Semarang dan Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia) dalam sebuah misa di Gereja Pugeran, Yogyakarta.

Videonya dapat diunduh di : http://www.youtube.com/watch?v=tUJkrbig3SU

Video ini hanya berdurasi 5 menit.

Tips untuk menonton video di Youtube :
1. Klik tombol play dan biarkan berjalan hingga video selesai meskipun koneksi internet terputus-putus.
2. Setelah selesai, geser tombol berbentuk bulat kembali ke posisi awal, lalu tekan tombol play. Video dapat ditonton lancar tanpa terputus-putus.

Beliau berpesan sebarkanlah video ini seluas-luasnya.

Guru Besar Universitas Stanford Serukan Hapus Peternakan dari Bumi

December 01, 2009 By: Pradnyamita Category: Global Warming

Ilmuwan vegan ternama membuat persiapan untuk mengubah industri makanan. Menyimpulkan bahwa planet ini tidak dapat menopang umat manusia jika konsumsi produk hewani terus meningkat, guru besar Universitas Stanford dan anggota Akademi Sains Nasional AS, Dr. Patrick Brown, memutuskan untuk mengesampingkan pekerjaan ilmiah normalnya selama 18 bulan dan sebagai gantinya berupaya menghapuskan peternakan di seluruh dunia. Rencananya termasuk membantu orang mengubah diet mereka dengan menunjukkan kepada perusahaan cara membuat dan memasarkan makanan vegetarian yang lezat. Selama enam bulan ke depan, dia akan bekerja sama dengan para ilmuwan membuat model yang menunjukkan bahwa biaya ekonomi dan lingkungan makanan hewan terlalu tinggi untuk dipertahankan, disusul dengan setahun bekerja sama dengan koki dan periset pangan ternama mengembangkan makanan vegetarian yang lezat dan program untuk mengatasi isu ketahanan pangan. Mengatakan bahwa dia ingin menyikapi krisis planet kita sebagai problem yang dapat dipecahkan, Dr. Brown menawarkan ringkasan sederhana solusinya: “Hapuskan peternakan di planet Bumi.” Referensi

Surat Kelima Kepada Sahabat (Fifth Letter to a Friend)

October 23, 2009 By: Pradnyamita Category: Global Warming

Subjek: Mewariskan planet yang indah untuk anak cucu kita

Sahabatku Terkasih:

Siapa yang tidak mengharapkan lingkungan yang lebih baik untuk orang yang kita kasihi, sahabat, keluarga, dan anak-anak kita? Tetapi kenyataannya yang kita hadapi sekarang adalah pemanasan global yang telah membuat lingkungan kita semakin tidak layak dihuni akibat polusi, zat beracun, bencana, kelaparan, kekurangan air, lenyapnya berbagai spesies makhluk hidup, dan ketidakseimbangan ekosistem. Apakah kita memiliki solusinya? Ya! Tetapi kita harus mengambil tindakan sekarang, karena kerusakan yang terjadi sudah sangat parah, dan bahwa kita hanya memiliki waktu kurang dari tiga tahun sebelum kita mencapai titik tanpa harapan.

Kami percaya bahwa kerusakan yang terjadi di planet kita adalah akibat dari tindakan manusia yang tidak sesuai dengan hukum alam semesta. Semua kitab suci utama telah mengajarkan kita tentang hukum ini. Di India adalah merupakan prinsip tanpa kekerasan berdasarkan hukum karma; di Timur, merupakan ajaran kasih-sayang berdasarkan kebersatuan dengan semua makhluk; di Barat, merupakan perintah untuk tidak membunuh yang berdasarkan pada hukum sebab dan akibat. Kita telah dianugerahi dengan biji-bijian, sayuran, buah-buahan dan protein nabati yang berlimpah yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kita semestinya menjadi penjaga yang baik bagi para satwa karena mereka memiliki peranan sebagai sahabat kita. Jika kita mengembangbiakkan mereka secara tidak manusiawi, menganiaya, dan menyembelih mereka demi memuaskan lidah kita, maka kita melanggar hukum alam semesta dan harus membayar hutang kita cepat atau lambat. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Jika kita mengasihi sesama dan berbagi kehidupan dengan sesama, maka kita akan diberkahi dengan kasih dan kehidupan kita akan berkembang.

Ini adalah panggilan darurat untuk melangkah menuju jalan kasih dan bertanggung jawab. Para pemimpin, media, dan seluruh rakyat perlu menyampaikan tentang bahaya makan daging sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gaya hidup berkebajikan dan kasih-sayang yang akan melindungi planet kita demi generasi mendatang dan menyelamatkan kehidupan kita sendiri.

Bahaya Makan Daging

Produksi daging menghabiskan lebih dari 74% dari seluruh kedelai dan 36% dari semua biji-bijian. 1,02 miliar orang menderita kelaparan yang berkepanjangan di tahun 2009, namun kita mampu memberi makan 2 miliar orang dengan kedelai dan biji-bijian yang dijadikan pakan ternak. Produksi daging juga banyak berperan terhadap kekurangan air. Kita menghabiskan 1.200 galon air untuk menghasilkan satu porsi daging panggang, 330 galon untuk menghasilkan satu porsi ayam; tapi hanya memerlukan 98 galon untuk menghasilkan satu porsi makanan vegan yang berisi tahu, nasi, dan sayuran. Diperkirakan bahwa produksi daging memerlukan 70% dari penggunaan air. Jelas bahwa makan daging adalah penyebab utama dari permasalahan kekurangan pangan dan air kita, termasuk penyusutan dari sumber daya alam lainnya seperti lapisan tanah atas, hutan hujan, dan tanah. Hal ini bahkan belum menyebutkan secara rinci tentang kerusakan dan kerugian ekonomis di seluruh dunia karena air yang tercemar akibat industri daging.

Tingginya Jejak Karbon Daging
Menurut majalah New Scientist, sebuah tim yang diketuai oleh Profesor Akifumi Ogino pada Institut Nasional Ilmu Peternakan dan Padang Rumput di Tsukuba, Jepang, mereka mengungkapkan data tentang aspek produksi daging pada tahun 2007 dan menemukan bahwa untuk memproduksi 1 kilogram daging sapi menghasilkan lebih banyak emisi CO2 daripada berkendaraan selama tiga jam serta membiarkan semua lampu di rumah tetap menyala.
Pada penelitian yang lain, asisten profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin di Universitas Chicago juga menemukan hubungan langsung antara produksi makanan dengan perlindungan lingkungan. Mereka membandingkan emisi gas rumah kaca dari lima jenis pola makan: kebiasaan rata-rata orang amerika, daging merah, ikan, unggas dengan mereka yang vegetarian, semuanya sama-sama mengonsumsi 3.774 kalori per hari. Mereka menemukan bahwa dengan beralih dari pola makan standar orang Amerika ke pola makan vegetarian, setiap orang akan mampu mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 1,5 ton per tahun.
Daging adalah Pembunuh bagi Lingkungan
Untuk menghasilkan satu pon daging sapi memerlukan 20.000 liter air. Hutan hujan seluas satu lapangan sepak bola musnah karena dialihfungsikan menjadi ladang peternakan hanya untuk menghasilkan 260 hamburger. Karena hewan ternak dikembangbiakkan dengan menggunakan teknik yang tidak berkelanjutan, hal ini telah membuat hilangnya lapisan atas tanah dan pepohonan, setiap ¼ pon hamburger mewakili 165 pon kerusakan lingkungan. Setiap pon daging panggang mengakibatkan 35 pon tanah lapisan atas hilang selamanya. Setiap inci lapisan atas tanah memerlukan 200 sampai 1.000 tahun untuk terbentuk secara alami.
Sebagai tambahan, nitrogen dalam kotoran ternak menjadi amonia dan nitrat dan merembes masuk lapisan atas tanah dan daerah resapan air bawah tanah, mencemari persediaan air minum kita dan mendatangkan malapetaka pada ekosistem air di seluruh dunia. Nitrat dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sistem syaraf manusia, kanker, dan anoksia pada bayi. Nitrogen pada kotoran ternak juga menjadi penyumbang utama pada polusi udara dan hujan asam. Di Belanda misalnya, kerusakan yang disebabkan oleh hujan asam dari peternakan bagi lingkungan melebihi jumlah yang disumbang oleh kendaraan dan industri.
Untuk Memproduksi 1 Kilogram Daging Sapi:
• Untuk memproduksi 1 kilogram daging sapi kita telah menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan potensi pemanasan yang setara dengan 36,4 kilogram karbon dioksida.
• Untuk menghasilkan 1 kilogram daging sapi juga memerlukan pupuk buat tanaman sebagai makanan sapi itu yang jumlahnya setara dengan 340 gram sulfur dioksida dan 59 gram fosfat, serta menghabiskan 169 megajoule energi.
• Satu kilogram daging sapi bertanggung jawab terhadap emisi CO2 yang jumlahnya setara dengan rata-rata mobil orang Eropa yang menempuh jarak sekitar 250 kilometer, dan membakar cukup energi untuk menyalakan lampu 100 watt selama hampir 20 hari.
Sumber: Jurnal Pengetahuan Satwa, 18 Juli 2007

Industri Peternakan adalah Penyebab Utama Kekurangan Pangan
Kenaikan harga pangan telah membuat tambahan sekitar 75 juta orang berada di bawah garis kelaparan, dan diperkirakan jumlah orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia meningkat menjadi 923 juta pada tahun 2007.
Pertanyaannya adalah: Apakah kita kekurangan pangan? Meskipun beberapa ketidak-efisienan terjadi dalam sektor penternakan, sekitar 1/3 padi-padian dan 90% kedelai dunia digunakan untuk makanan ternak. Sebenarnya ini dapat memberi makan 2 miliar orang.
Membutuhkan 10 kg makanan ternak untuk memproduksi 1 kg daging sapi
Membutuhkan 4 hingga 5,5 kg biji-bijian untuk memproduksi 1 kg daging babi
Membutuhkan 2,1 hingga 3 kg biji-bijian untuk memproduksi 1 kg daging unggas
- Sumber: FAO 2006; CAST 1999, B. Parmentier,, 2007
Kesimpulannya, beralih ke pola makan vegan dapat mengerem hingga 80% pemanasan global, menghilangkan kelaparan dunia, menghentikan perang, memperluas perdamaian, menyelamatkan persediaan air dan sumber daya alam berharga lainnya, serta menyelamatkan manusia dari tindakan merusak diri sendiri.
Harap beritahu orang sebanyak mungkin tentang kesulitan alam dari krisis, dan solusi paling cepat dan efektif adalah: pola makan vegan organik. Terima kasih!
Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: http://www.suprememastertv.com/ina
Terima kasih atas apa yang Anda lakukan untuk dunia dan generasi mendatang.

Salam Hormat,
Warga Bumi Yang Peduli

Surat Keempat Kepada Sahabat (Fourth Letter to a Friend)

October 22, 2009 By: Pradnyamita Category: Global Warming

Subjek: Kita mungkin hanya punya sisa waktu 3 tahun untuk menyelamatkan dunia dan hidup kita – tetapi kita dapat melakukannya!

Sahabatku Terkasih:

Hari ini planet Bumi sedang menghadapi krisis yang sangat parah. Kita hanya mempunyai sekitar 1200 hari lagi sebelum mencapai titik tanpa harapan. Tapi masih ada harapan jika kita melepaskan makan daging, yang mana tergolong sadis terhadap hewan serta merusak lingkungan dan kesehatan kita. Sebaliknya, kita memilih pola makan nabati yang penuh kasih, memperlakukan hewan dengan kasih, menjaga lingkungan, dan berdoa bagi kemurahan Ilahi agar membalikkan situasi dan menyelamatkan planet ini.

Tidak ada waktu untuk menunda-nunda. Demi anak cucu kita, negara kita, dan Bumi ini, tolong segera ambil tindakan untuk menyebarkan pesan tentang perlunya mengadopsi pola makan vegan. Ini adalah satu-satunya cara yang pasti untuk menyelamatkan dunia.

Dengan hanya sisa 3 tahun terakhir, kita tidak perlu kehilangan apapun kecuali kebiasaan kita. Singkatnya adalah dengan mengubah gaya hidup kita yang lebih penuh kasih dan berkelanjutan, maka miliaran nyawa akan terselamatkan. Kita tidak mempunyai kesempatan kedua lagi.

Para ahli iklim menghubungkan bencana cuaca dan perubahan iklim kita belakangan ini dengan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer. 350 ppm dikatakan sebagai batas bahaya, dan saat ini kita telah mencapai 385 ppm, dan ini terus meningkat. Para ilmuwan di seluruh dunia saat ini terus memantau lonceng bahaya pencairan es di Greenland.

James Hansen, kepala institute terkenal NASA yang mempelajari perubahan iklim berkata bahwa pemanasan global tidak hanya menyebabkan kekeringan yang parah, tapi juga akan mengakibatkan penguapan yang meningkat drastis di atmosfer sehingga ketika turun hujan, jumlahnya akan terus meningkat dan mengakibatkan bencana banjir.

Di Burma, banjir besar telah merenggut 130.000 nyawa di tahun 2008.

Pada musim gugur 2008, lebih dari 10 negara mengalami banjir yang serius.

Dari bulan Januari hingga Agustus 2009, dunia kita mengalami kondisi cuaca yang ekstrem termasuk kebakaran, banjir, kekeringan, angin topan, tornado, gelombang panas, dan salju di gurun pasir.

Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa Bangsa IPCC baru-baru ini memperkirakan bahwa hingga tahun 2050, 17% Bangladesh akan berada di bawah air. Ketika penduduk yang menjadi korban kehilangan rumahnya, mereka akan melarikan diri ke daratan yang lebih tinggi. Kerusuhan dan kekacauan tak dapat dihindari karena terlalu banyak pengungsi untuk diselamatkan.

Dua pertiga gas rumah kaca berasal dari industri peternakan.

<Rencana Aksi Perlindungan Iklim Cincinnati>

Tolong pertimbangkan dampak dari pola makan kita: Pada tingkat individu, Anda dapat mengganti lampu yang efisien energi, membeli mobil hibrida, menanam pohon… tapi tidak ada yang lebih cepat, lebih mudah, lebih efektif dan ekonomis untuk mengerem pemanasan global selain mengubah kebiasaan pola makan seseorang. Mantan Ketua Klub Sierra dan asisten pendiri Greenpeace Paul Watson berkata: Bahkan jika seorang vegetarian mengendarai mobil sport Hummer, ia masih lebih ramah lingkungan daripada seorang pemakan daging yang berpergian dengan mengendarai sepeda.
(more…)